Untukmu yang tak perlu lagi kupertimbangkan. Kamu yang sebelumnya mendapingi dan mampu membuatku sedikitpun tidak merasa ragu. Entah dimanapun kamu saat ini, atau apapun yang kamu pikirkan tentang aku, ku mohon bacalah surat ini agar kamu mengerti jalan pikiranku.
Tak ada yang perlu disesali atas perpisahan yang harus kita jalani. Aku memang lebih memilih untuk tidak mengikuti keinginanmu saat mengajakku menghabiskan waktu menua bersamamu didesa tempat dimana kamu dibesarkan. Menghadapi kehidupan sederhana tanpa karir dan penghasilan yang pasti. Bukan karena aku tidak cinta lagi, harusnya kamu tahu bahwa sebelum mengambil keputusan ini aku sendiri sudah lebih dulu menghabiskan airmata. Rasanya seperti mengiris hatiku sendiri.
Ini semua bukan karena aku tak bisa untuk diajak hidup susah atau karena aku matre. Bisakah kita ganti kata matre dengan realistis? Dan mengajak hidup susah dengan berjuang bersama? Ketahuilah, aku bahkan sudah lebih dulu merasakan getirnya hidup, bahkan saat masih dalam kandungan.
Bukankah sudah ku jelaskan panjang lebar, aku bukan gadis yang lahir dan dibesarkan dari keluarga kaya raya. Aku hidup dan tumbuh dalam keluarga sederhana. Aku juga bukan anak tunggal yang tidak memiliki sedikitpun tanggung jawab terhadap adik-adikku. Aku bukan gadis yang hidup seperti itu.
Bukankah sudah ku jelaskan panjang lebar, aku bukan gadis yang lahir dan dibesarkan dari keluarga kaya raya. Aku hidup dan tumbuh dalam keluarga sederhana. Aku juga bukan anak tunggal yang tidak memiliki sedikitpun tanggung jawab terhadap adik-adikku. Aku bukan gadis yang hidup seperti itu.
Sebaliknya, aku justru lahir dari rahim seorang wanita yang hidup dalam kesederhanaan. Kemudian dibesarkan oleh seorang pria luar biasa yang hidup dalam keadaan susah. Merekalah orang tuaku. Yang biasa aku sebut malaikat tanpa sayap. Yang saat ini ada sejuta harapan mereka diletakan diatas pundakku.
Harusnya kamupun mengerti. Bukan tanpa tujuan mereka memberikanku pendidikan lebih dari yang mereka bisa dapatkan dulu. Dalam doa mereka aku tahu, selalu terlantun harapan agar aku memiliki kehidupan yang lebih dari mereka. Agar aku bersedia meringankan walau sedikit saja beban mereka membesarkan adik-adikku, paling tidak agar adik-adikku nantinya tidak perlu merasakan seberapa getir aku harus menghadapi perjalanan hidup, Mereka tak perlu merasakan malu saat mengalami keterlambatan membayar SPP. Mereka tak perlu merasa minder karena memakai baju dan sepatu yang lusuh sebagaimana dulu aku mengalaminya. Aku bena-benar tak ingin mereka menjalani itu semua.
Harusnya kamupun mengerti. Bukan tanpa tujuan mereka memberikanku pendidikan lebih dari yang mereka bisa dapatkan dulu. Dalam doa mereka aku tahu, selalu terlantun harapan agar aku memiliki kehidupan yang lebih dari mereka. Agar aku bersedia meringankan walau sedikit saja beban mereka membesarkan adik-adikku, paling tidak agar adik-adikku nantinya tidak perlu merasakan seberapa getir aku harus menghadapi perjalanan hidup, Mereka tak perlu merasakan malu saat mengalami keterlambatan membayar SPP. Mereka tak perlu merasa minder karena memakai baju dan sepatu yang lusuh sebagaimana dulu aku mengalaminya. Aku bena-benar tak ingin mereka menjalani itu semua.
Kedua orang tuaku pun berkeinginan agar aku bisa sedikit dipandang dalam keluarga besar kami. Tidak seperti mereka yang bahkan hanya berani tertunduk malu saat ada perkumpulan keluarga dan masing-masing dari mereka memamerkan apa yang mereka punya. Mengertilah, selain Tuhan saat ini akulah satu-satunya kepunyaan mereka yang dapat mereka banggakan. Itupun kamu masih tega mengambilnya?
Aku memang mencintaimu. Untuk hal yang satu ini kamu tak perlu menyimpan ragu. Tapi sungguh, mereka jauh lebih penting darimu. Aku mengenal mereka jauh sebelum aku mengerti kata-kata. Mereka yang mampu mengorbankan segalanya untukku. Mereka yang selalu ada dalam setiap keadaanku. Mereka yang bahkan rela berkata "kami tidak lapar, kamu habiskan saja makanannya." Padahal aku tahu betul saat itu mereka sedang berdusta. Mereka yang setahuku sanggup berhutang sana sini hanya untuk memberikan kehidupan yang layak bagiku. Mereka yang bahkan rela tak tidur demi untuk memperpanjang waktu mereka mencari rupiah demi rupiah agar aku tak harus bertanya "Apa yang akan kita makan hari ini?"
Aku tak sampai hati melihat mereka semakin menua dan tersiksa dalam pijakan zaman yang semakin sulit dikendalikan. Saat semuanya harus begitu sulit mereka jalani, sanggupkah aku meninggalkan mereka dan memilih hidup denganmu meninggalkan semua impian mereka? Bahkan papa sendiri berkata "Dengan pertaruhan nyawa dan harga diri papa dan mama membesarkan kamu, agar kamu tak harus jalani hidup seperti kami. Dan sekarang ada orang baru mengenalmu datang tanpa tahu kamu dibesarkan dengan kesulitan luar biasa sampai kamu bisa seperti saat ini kemudian mau mengajakmu hidup susah? Adakah yang lebih sakit yang bisa kamu kasih ke papa selain ini?" Menetes airmataku. Bahkan dia sendiripun tak jadikan kesulitannya sebagai pertimbanganku. Hanya aku dan kebahagiaanku, itulah tujuannya.
Aku tak sampai hati melihat mereka semakin menua dan tersiksa dalam pijakan zaman yang semakin sulit dikendalikan. Saat semuanya harus begitu sulit mereka jalani, sanggupkah aku meninggalkan mereka dan memilih hidup denganmu meninggalkan semua impian mereka? Bahkan papa sendiri berkata "Dengan pertaruhan nyawa dan harga diri papa dan mama membesarkan kamu, agar kamu tak harus jalani hidup seperti kami. Dan sekarang ada orang baru mengenalmu datang tanpa tahu kamu dibesarkan dengan kesulitan luar biasa sampai kamu bisa seperti saat ini kemudian mau mengajakmu hidup susah? Adakah yang lebih sakit yang bisa kamu kasih ke papa selain ini?" Menetes airmataku. Bahkan dia sendiripun tak jadikan kesulitannya sebagai pertimbanganku. Hanya aku dan kebahagiaanku, itulah tujuannya.
Maka dari itu, lupakan saja mimpi kita untuk hidup bersama bila syarat yang kamu berikan bagiku untuk mendampingimu adalah dengan mengubur harapan kedua orang tuaku. Karena aku takkan pernah melakukan itu. Sekalipun sakit harus ku alami karena tak lagi dapat berharap kelak akulah wanita yang akan menyandang nama besar keluargamu. Tak apa. Aku tak merasa rugi sama sekali. Karena aku hanya akan mengabdikan diriku menjadi seorang istri dari pria yang tidak hanya mencintaku tapi juga keluargaku.

No comments:
Post a Comment